AGEN ASURANSI : PENJUAL REKSA DANA HARUS BERSERTIFIKASI

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan akan mewajibkan tenaga pemasar atau agen asuransi jiwa yang memasarkan produk pasar modal untuk memiliki sertifikat profesi.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (IKNB OJK) Edy Setiadi mengatakan, proses sertifikasi dinilai penting untuk menjamin tenaga pemasar yang menjadi agen penjualan cek reksa dana (Aperd) telah memahami produk pasar modal yang dipasarkan, khususnya reksa dana.

“Produknya itu kan terkait pasar modal, tetapi tenaga pemasarnya ada yang berasal dari IKNB, maka kami akan lakukan sinergi antara kompartemen terkait di OJK untuk membahas proses penerbitan sertifikat,” kata Edy, Senin (19/12).

Dia menuturkan, dorongan memasarkan produk pasar modal pada dasarnya tidak hanya ditujukan untuk tenaga pemasar di asuransi jiwa, melainkan juga dapat dilakukan oleh lembaga jasa keuangan nonbank lainnya seperti perusahaan pembiayaan, perusahaan asuransi umum, perusahaan pegadaian, perusahaan penjaminan dan dana pensiun (Dapen).

Hal itu mengacu pada peraturan OJK atau POJK No. 39/2016 tentang Agen Penjual Efek Reksadana. Ketentuan itu memperluas jenis perusahaan yang dapat menjadi Aperd dari yang sebelumnya hanya perusahaan sekuritas, manajer investasi dan bank.

Selain itu, ketentuan itu juga menyebutkan bahwa tenaga pemasar agen penjual efek reksa dana wajib memenuhi beberapa persyaratan seperti memiliki izin sebagai wakil perusahaan efek dan/atau wakil agen penjual efek reksa dana.

Perssyaratan lainnya adalah mendapatkan penugasan khusus secara tertulis dari agen penjualan efek reksa dana untuk bertindak sebagai tenaga pemasaran.

Dorongan OJK kepada agen asuransi jiwa untuk memasarkan produk pasar modal semakin digaungkan setelah adanya penandatanganan nota kesepahaman antara sejumlah asosiasi di IKNB dan Investment & Financial Learning Center.

Sebelumnya, Dumoly F. Pardede Deputi Komisioner Pengawas IKNB II Otoritas Jasa Keuangan, menjelaskan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), PT Bursa Efek Indonesia dan Ikatan Pialang Efek Indonesia telah sepakat untuk menyusun kesepakatan bersama dalam upaya mendorong keterlibatan pelaku industri untuk mengembangkan pasar modal.

Dalam kesepakatan itu, ujarnya, para agen perusahaan asuransi jiwa akan diberikan pelatihan agar siap memasarkan produk pasar modal secara ritel. Dia menilai realisasi rencana tersebut akan berdampak signifikan terhadap layanan jasa keuangan yang ada.

Pasalnya, sinergi antara pelaku asuransi dan pasar modal itu juga akan melibatkan program perbankan, yakni Laku Pandai atau layanan keuangan perbankan tanpa kantor.

Menanggapi usulan tersebut, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengatakan, pihaknya siap untuk turut serta menjalankan program sinergi tersebut.

Kendati demikian, dia menyatakan butuh waktu untuk merealisasikan program tersebut, karena para agen tentunya memerlukan pengetahuan tambahan untuk memasarkan produk lain di luar asuransi.

“Belum lagi, apakah semua agen asuransi akan mau menjual? Kami tidak tahu. Tapi kami akan coba ini,” kata Hendrisman.

Hingga kuartal III/2016, jumlah tenaga pemasaran asuransi jiwa berlisensi mencapai 520.281 orang, atau tumbuh 16,3% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu yaitu 447.407 orang.

 

Fitri S. Dewi – Bisinis Indonesia – Asuransi & Pembiayaan – Selasa, 20 Desember 2016 – Hal 21