Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim : Bersaing Sehat dengan Pesaing

Tak mudah memimpin perusahaan yang hampir bangkrut menjadi korporasi maju. Namun, Hendrisman Rahim, direktur utama (Dirut) PT Asuransi Jiwasraya, mampu membuktikannya. Sempat terlilit utang Rp 6,7 triliun, BUMN tersebut kini menjadi salah satu perusahaan asuransi jiwa terbesar.

Apa tantangan yang dialami industri asuransi jiwa saat ini?

Sekarang perusahaan asing, yang joint venture itu, banyak main di produk modern yang menjual saving seperti unit link. Tantangannya, mereka dan perusahaan lokal seperti kami ini bermain di industri yang sama dengan regulasi yang sama. Artinya, kita harus bisa bersaing secara sehat. Tapi sekaligus bersama-sama bertujuan memajukan industri ini. Kami di perusahaan lokal lebih banyak bertahan di produk tradisional. Dan nyatanya ini punya pasar sendiri-sendiri.

Apakah ada rencana mengedepankan produk unit link?

Harus dong. Sebenarnya sudah ada sih. Kami sudah mulai menjual. Tapi memang tidak segencar perusahaan asing. Kami juga harus melihat pasarnya itu bagaimana untuk yang unit link itu. Semakin hari, orang semakin berpikir bahwa ada saatnya dia harus saving, ada saatnya mereka harus berorientasi ke proteksi, ada saatnya mereka harus melakukan dua-duanya. Nah, itu ada pasarnya sendiri.

Di kota besar, memang masyarakatnya cenderung punya unit link. Tapi, ya tidak terlalu banyak dibanding jumlah masyarakat di Indonesia ini. Orang yang menginginkan proteksi saja juga banyak. Penjualan unit link di kami itu 10 persen dari total portofolio.

Apakah ada rencana mengembangkan produk syariah?

Jiwasraya pernah mengajukan izin untuk syariah. Malah sudah keluar dewan pengawasnya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tapi, izin Bapepam LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) belum ada. Dulu kami punya masalah kan (utang Rp 6,7 triliun). Pada waktu sudah mau selesai masalah itu, saya mengajukan izin untuk syariahnya. Nah, sama Bapepam LK ditolak. Katanya harus selesaikan dulu masalah di Jiwasraya ini (masalah utang). Sampai sekarang kami belum mengajukan izin lagi.

Sebenarnya kalau kita pikir, untuk mengembangkan produk syariah, kan harus mendirikan anak perusahaan. Sebab, kalau window (lini bisnis) saja, sudah tidak ada izin lagi. Nah, untuk mendirikan anak perusahaan ini kan harus izin dulu ke pemegang saham. Untuk 2-3 tahun ke depan mungkin belum ada rencana ke situ.

Jadi, intinya, 2-3 tahun lagi ada rencana mendirikan unit usaha syariah (UUS) begitu?

Ya harus dong. Masak BUMN enggak punya? Sebenarnya persiapannya sudah semua. Cuma izinnya (ke Otoritas Jasa Keuangan) yang belum kami ajukan lagi.

Mengapa belum mengajukan izin?

Belum saatnya kalau sekarang ini. Sebenarnya kalau kita mau jujur, syariah itu relatively perkembangannya tidak seperti yang kita gambarkan 10 tahun yang lalu. Pada waktu kami setting syariah ini 15 tahun yang lalu, Indonesia mencanangkan bahwa asuransi syariah akan lebih besar dari industri asuransi syariah di Malaysia. Itu 15 tahun lalu. Tapi, nyatanya sekarang belum tercapai. Mereka yang sudah punya syariah, ya beroperasi memang. Cuma, pertumbuhannya lebih lambat dari yang kita harapkan.

Bukankah sebaiknya sebelum tumbuh pesat kita harus ambil momentum di awal?

Mestinya, ya. Cuma (perusahaan) yang lain kan sudah merasakan, tumbuhnya syariah itu berapa persen. Mereka juga punya cita-cita, ''mumpung belum banyak orang yang punya, saya kebut penjualannya,'' begitu. Tapi, kami kan enggak bisa lantas ikut-ikutan mau dikebut juga. Ini tidak mudah.

Bagaimana proyeksi kinerja tahun ini?

Tahun ini target premi kami Rp 20 triliun. Tahun lalu tercapai Rp 18 triliun, tahun 2015 Rp 10,5 triliun. Lumayan lah naiknya. Profit tahun lalu sekitar Rp 1,05 triliun. Tahun ini targetnya di atas Rp 1,5 triliun lah. Tahun ini kami masih akan bertumpu pada jalur bancassurance. Sebab, sumbangannya 50 persen terhadap perolehan premi. BUMN juga akan kami incar untuk yang jalur corporate. Sekarang baru 40 persen BUMN yang bekerja sama dengan kami. Kami juga masih menggunakan jalur distribusi keagenan. Sebab, jalur agen masih dibutuhkan untuk produk asuransi jiwa.

Apa yang membuat industri asuransi jiwa akan terus berkembang di Indonesia?

Industri asuransi jiwa pasti akan terus tumbuh. Sebab, literasi dan kesadaran berasuransi masyarakat terus membaik. Secara permo­dalan, industri asuransi kita juga cukup kuat. Pemerintah sudah mewajibkan investasi perusahaan asuransi di surat berharga negara (SBN).

Jiwasraya sudah lebih dari 20 persen portofolionya ke SBN. Sementara permintaan produk unit link masih tumbuh. Juga produk tradisional yang kebutuhannya masih tinggi. Semua akan tumbuh. Apalagi pemerintah juga mendorong literasi keuangan yang lebih baik. (*/c5/sof)